psikologi takhayul
mengapa otak kita menciptakan ritual untuk mengontrol nasib acak
Pernahkah kita sengaja memakai kemeja tertentu saat presentasi penting, murni karena kemeja itu pernah membawa keberuntungan sebelumnya? Atau refleks mengetuk meja kayu sambil bilang amit-amit saat membicarakan nasib buruk? Saya harus mengaku, saya punya satu pulpen keramat yang pantang dipinjamkan saat tenggat waktu pekerjaan sedang mepet. Kalau dipikir pakai logika sedetik saja, kita tahu benda mati tidak punya kekuatan magis. Tapi kenapa kita, manusia modern yang bisa memecah atom dan meluncurkan robot ke Mars, masih repot-repot melakukan ritual aneh ini? Jawabannya ternyata bukan karena kita kurang pintar. Sebaliknya, ini adalah efek samping dari mesin paling canggih di alam semesta: otak kita sendiri.
Mari kita mundur sebentar ke masa lalu. Bayangkan kita adalah sekelompok manusia purba puluhan ribu tahun lalu, hidup di padang sabana yang buas. Dunia ini sangat acak dan menakutkan. Kadang cuaca bersahabat, kadang badai menghancurkan segalanya. Kadang perburuan sukses, tapi tak jarang ancaman hewan buas mengintai dari balik semak. Dalam kekacauan yang konstan ini, otak manusia berevolusi untuk satu tugas utama, yaitu memastikan kita bertahan hidup. Bagaimana caranya? Dengan mencari pola. Kalau daun gemerisik, mungkin hanya angin, tapi mungkin juga ada macan tutul pelapar. Otak yang cepat menyimpulkan pola—meskipun polanya salah—akan membuat pemiliknya lari lebih cepat dan selamat. Masalahnya, insting mencari pola ini bekerja terlalu baik. Kita jadi terbiasa melihat pola di tempat yang sebenarnya murni kebetulan. Inilah bibit pertama dari takhayul dalam sejarah manusia.
Untuk membuktikan seberapa kuat dorongan mencari pola ini, seorang psikolog legendaris bernama B.F. Skinner pernah melakukan eksperimen yang agak nyeleneh di tahun 1948. Dia memasukkan beberapa ekor burung merpati ke dalam sangkar khusus. Di dalam sangkar itu, ada mesin yang secara otomatis mengeluarkan makanan pada interval waktu yang benar-benar acak. Tidak peduli apa pun yang dilakukan burung-burung itu, makanan akan tetap keluar sesuka hati mesinnya. Teman-teman tahu apa yang terjadi beberapa hari kemudian? Burung-burung itu mulai bertingkah sangat aneh. Ada satu burung yang terus-menerus memutar kepalanya ke kiri. Ada yang mematuk-matuk sudut sangkar berulang kali dengan ritme pasti. Ada juga yang memutar tubuhnya seperti sedang menari. Kenapa mereka tiba-tiba melakukan ritual itu?
Inilah momen pencerahannya. Burung-burung itu tanpa sengaja sedang melakukan gerakan tertentu—misalnya menengok ke kiri—tepat beberapa detik sebelum makanan kebetulan keluar. Otak mereka langsung membuat koneksi palsu: "Aha! Kalau saya menengok ke kiri, makanan akan muncul!" Mereka baru saja menciptakan takhayul merpati. Fenomena ini dalam dunia psikologi disebut sebagai ilusi kontrol. Saat dihadapkan pada situasi yang tidak pasti dan penuh tekanan, otak kita akan memproduksi hormon penurun stres jika kita merasa punya kendali. Menciptakan ritual memberi kita ilusi bahwa kita memegang setir di jalanan nasib yang sebenarnya buta. Ini sama sekali bukan soal kebodohan intelektual. Ini murni mekanisme pertahanan diri saraf otak untuk meredakan kecemasan. Semakin dunia terasa kacau, semakin keras otak kita merajut takhayul.
Lalu pertanyaannya, apakah kita harus membuang semua ritual kecil kita mulai sekarang? Belum tentu. Selama ritual itu tidak merugikan diri sendiri atau menguras dompet kita, sebenarnya sah-sah saja. Memakai sepatu botut favorit sebelum wawancara kerja bisa jadi memberi kita suntikan rasa percaya diri. Itu semacam placebo effect yang diracik sendiri oleh otak kita untuk menenangkan saraf yang tegang. Yang terpenting sekarang, kita tahu rahasianya. Saat kita mulai panik dan bersandar pada hal-hal berbau takhayul, itu sebenarnya sebuah sinyal. Tubuh kita sedang berbisik lembut bahwa kita merasa rentan dan butuh kepastian. Daripada menyalahkan nasib pada kucing hitam yang lewat di jalan, mungkin ini saatnya kita tersenyum, menarik napas panjang, dan menyadari satu hal. Dunia ini memang acak, teman-teman, dan misteri di hari esok justru adalah bagian dari keseruan menjadi manusia.